Akhir-akhir ini hidup memang menjadi sangat tidak menarik, membosankan, dan saya mulai sedikit kehilangan gairah. So pathetic. Saya mulai merasa seperti tokoh2 pecundang di film-film Hollywood: kerja 8 to 5; pulang kerja cari dvd terus nyampe rumah nonton dvd sendirian, main game, internetan, nonton berita politik, menertawakan kekonyolan Tukul Arwana, tidur (atau ketiduran), bangun pagi gara2 alarm, bergegas ke kantor, kerja 8 to 5; pulang kerja kehujanan, yeah.. menyebalkan...
Satu-satunya yang jadi hiburan adalah bertemu teman-teman; bermain musik, nonton di bioskop, atau sekedar ngobrol, mengenang masa-masa awal kuliah, mengingat hal-hal menarik yang pernah kita lakukan, menceritakan ketololan-ketololan kawan-kawan kita. Saya memang pemuja memori; saya selalu mengingat hal-hal indah yang pernah saya lewati bersama siapapun.
Terinspirasi film Wanted (kalo ga salah), karena saya sedang dalam puncak muak, merasa 'tidak penting' (feeling insignificant) seperti tokoh utama di film itu; saya mencoba mengetik "Bayu Genia" di kotak pencarian google;... syukurlah, saya ternyata tidak se-menyedihkan tokoh utama tadi; setidaknya ada 7 (wow, angka favorit saya) halaman yang memuat atau mencantumkan nama saya dalam tulisan mereka.
Ada account friendster, myspace, dan beberapa tulisan blog yang memuat nama saya. Bahkan ada seorang wanita sholehah berjilbab yang mencantumkan salah satu artikel di blog saya sebagai catatan kaki tugas Ujian Akhir Semester-nya; dia bahas soal dunia pendidikan di Indonesia, dan memang saya pernah bikin tulisan panjang soal dunia pendidikan di Indonesia menurut pandangan saya. Wow, bayugenia.tk sudah diakui secara ilmiah-kah seperti wikipedia.org? hahaha... Menarik sekali, dan terima kasih sudah mempercayai gumaman saya.
Ada beberapa juga yang menyebutkan nama saya di cerita blog teman-teman saya, ada juga yang mengucapkan selamat ulang tahun. Dan oh ya, ada nama saya juga tercantum di blog salah seorang yang pernah menjadi teman hidup saya. Sedih sekali rasanya; dulu saya cuek sekali berarti... Karena ada beberapa posting blog dia yang ternyata belum saya baca; yang menyangkut relationship kami (dulu); bahkan saya baru baca soal point-point penting yang kami ributkan di hari kami memutuskan berpisah, sebenarnya pernah dia tulis di blognya.
Yeah, itu memang jadi pelajaran berharga buat saya, walaupun pada akhirnya membut saya (kembali) merasa bersalah. Setidaknya itu jadi pelajaran buat saya di masa depan; jangan pernah menuntut hal yang sebenarnya orang lain punya tapi kita belum 'menyadari' itu. Ya, saya pernah bilang "kamu ga tau siapa saya"; dan saat saya baca tulisan-tulisan itu, justru saya berpikir; saya yang ngga benar-benar mengenal siapa dia.
Sudahlah, saya tidak bermaksud terus menerus bergulat dengan romantisisme masa lalu. Lagipula itu sudah sangat lama. Time heals all wound, kata orang, dan saya amini.
Tiba-tiba saja saya ingin segera pergi jauh.
Untuk benar-benar 'move on'.
Suatu malam saya dan temen-temen seni lukis terlibat dalam sebuah diskusi yang cukup serius di studio lukis atas. Awalnya ngebahas tentang topik Tugas Akhir (bahas fenomena agama yang ter-institusi dan kebobrokan kehidupan beragama di Indonesia) yang dipilih oleh salah seorang anak lukis, akhirnya pembicaraan melebar sampai ke pembahasan filsafat teologi, terus ujung-ujungnya saya disidang, apa pendapat saya tentang hal ini-hal itu, keyakinan yang saya yakini –tentunya saya meyakini ketidakyakinan saya--,.. dan setelah mereka cukup pusing dengan jawaban saya, terakhir saya balik tanya: kalian lebih percaya dogma agama atau ilmu pengetahuan/sains?
Karena mereka termasuk orang-orang berkeyakinan maka jawabannya tentu saja mereka lebih percaya dogma agama walalupun jika dikaitkan dengan perkembangan kebudayan, teknologi, gaya hidup, penemuan mesin fotokopi, penemuan internet, manusia menginjakkan kaki di bulan, misi luar angkasa di planet Mars, atau dunia hiperrealitas, tentu saja dogma agama sudah tidak relevan –jika tidak boleh dikatakan usang--. Perdebatan berakhir dengan tidak jelas, tanpa kesimpulan, tanpa solusi, seperti layaknya filsafat; bikin pusing dan tidak menawarkan solusi. Ya, berarti bisa dibilang ini perdebatan filosofis, perdebatan yang ngga pernah ada ujungnya. Kami membubarkan diri menuju kantin arsitek untuk minum kopi.
Ternyata diskusi berlanjut. Seorang temen saya bertanya, "Menurut kamu apa itu bahagia?". Wow. Pertanyaan yang sulit. Sesulit pertanyaan "apa itu cinta?", atau "untuk apa kamu hidup?". Pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu dijawab melainkan dirasakan. Seperti wanita, tidak perlu didefinisikan, yang penting dirasakan,..hehehe..kidding.
Saya jawab seadanya, bahagia buat saya adalah terbebas dari segala kegelisahan-kegelisahan. Rasanya semenjak saya, katakanlah, mulai mempertanyakan mengapa saya hidup, mulai meragukan kebenaran-kebenaran yang tak terbantahkan, mulai menolak untuk sekedar percaya tanpa pembuktian rasional-empiris; saya selalu diteror kegelisahan-kegelisahan. Saya mencari kebenaran-kebenaran yang saya rasa dan saya pikir benar menurut saya. Sialnya, saya berada di kehidupan yang serba relatif, yang dipenuhi orang-orang suci serta orang-orang tamak, teror dapat membunuhmu kapan saja, kebijakan yang ditentukan orang lain dapat membuatmu jatuh miskin dan mati kelaparan dalam hitungan hari, saya hidup dalam kesepakatan yang tak pernah saya sepakati, saya hidup diantara orang-orang yang berlomba-lomba merasa lebih benar dari yang lainnya, saya berada dalam kehidupan yang tidak seindah lagu cinta evergreen yang sering saya dengarkan sebagai pengantar tidur.
Saya sepakat dengan berbagai definisi "bahagia" menurut para ustadz, motivator, presentator bisnis Multi Level Marketing, atau terdakwa yang sebentar lagi dieksekusi mati; bahagia adalah puncak hidup, bapak dari rasa puas, lega, senang, berhasil. Bahagia adalah bertemu dengan teman bermainmu waktu kecil, bertemu dengan orang yang kau kenal di tempat yang sangat asing bagimu, atau bertemu dengan orang yang kamu cintai sampai akhir hayatmu. Tapi kegelisahan akan tetap menyertai kita. Kegelisahan-lah yang membuat kita hidup; dan berpikir. Mungkin kita akan berhenti gelisah saat kita berhenti berpikir.
Mengutip temen saya yang jago debat bahasa Inggris: Happiness is a state of mind. Klise memang, tapi saya amini.



| Next Page |

| << November 2009 >> | ||||||
| Sun | Mon | Tue | Wed | Thu | Fri | Sat |
| 01 | 02 | 03 | 04 | 05 | 06 | 07 |
| 08 | 09 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 |
| 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 |
| 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 |
| 29 | 30 | |||||
+abo.fikom unpad
+andrea.dkv itb
+annemarie
+ariani
+ayu
+ayu.dp itb>
+be pe.patung itb
+bram
+carryn.alumni dkv itb
+commonroom
+crimethought
+cupu
+diani.dkv itb
+dj eijkov
+empatbelas
+fannie
+fitrah.unpad
+gin.hukum unpar
+ikaria
+kania.lukis itb
+libertania
+lidya.dp itb
+nazla lutfiyah
+neneism.dkv itb
+ombolot
+pipit
+phoebe.fikom unpad
+radit.dp itb
+rani.alumni dkv itb
+rega.patung itb
+rey
+rimbapatria
+rizteg
+soe.alumni dkv itb
+soedra
+subur.fkg unpad
+syn.dp itb
+tarlen.tobucil
+tremor
+therainydays e-zine
+truegossiper
+uci.patung itb
+vetuyara
+vienz.arsitek itb
+winda
+zwei
[contact form]
Tidak ada sesuatu yang baru di kolong langit ini...
bayugenia.tk
circa 2001